Powered By Blogger

Selasa, 27 Januari 2015

Sinandung Masa Pacaran



Cerpen
Judul   :  29 January
Gadis SMP ( Sinandung Masa Pacaran ) Girel namanya, sosok gadis yang memiliki tinggi badan kurang lebih 160 cm dan berat badan yang ideal, berambut panjang lurus, berkulit sawo matang serta mempunyai bentuk tubuh yang menarik ini telah menjalin hubungan dengan seorang cowok playboy sekaligus pecandu narkoba bernama Gilang.
Gara-gara saking cintanya girel dengan gilang, apapun permintaan gilang akan selalu di kabulkan oleh girel, dari semua kebutuhan gilang, termasuk motor dan bahkan seluruh keinginan gilang selalu di turuti oleh girel. Cara pacaran girel memang sangat tak wajar. Menurut gilang, girel adalah mesin pencetak  yang kapan di butuhkan akan menghasilkan apapun yang ia mau. Girel yang merupakan anak tunggal dari pengusaha kaya tingkat tinggi ini memang benar-benar mencintai gilang, meskipun gilang kerap kali menyakiti hatinya dan selalu saja memanfaatkan materi yang di miliki girel, girel tetap mencintainya dengan tulus.
Di belakang girel, ternyata gilang main gila dengan seorang wanita panggilan, hal ini amat sangat sering di lakukan oleh gilang, uang yang di dapat dari girel selalu ia gunakan untuk memuaskan nafsu setannya, dari mabuk, nyabu dan kebejatan lainnya. Hingga akhirya girel

menggetahui hal itu, namun rasa cinta yang tulus dari girel jauh lebih besar di banding rasa kecewanya pada gilang, gilang berjanji akan berubah dan girelpun memaafkan gilang.
Janji hanyalah janji, gilang memang benar-benar gila, otaknya sudah tak beres lagi. Ia tidak meninggalkan dunia kebejatannya, tetap seperti dulu, dan tak mau berubah. Yang kesekian kalinya girel mengetahui kebusukan gilang, dan kali ini girel tidak akan memaafkannya, perilaku gilang tak sanggup lagi girel terima. Langit yang cerah tiba-tiba redup saat girel mengucapkan kata putus dan pergi meninggalkan gilang dari dunia gelapnya itu, pedih rasa hati girel, bukan Cuma batinya yang tersiksa namun jiwanya juga ikut merana, langit seakan ikut menagis melihat girel terluka, hujan deras tiba-tiba melanda, menumpahkan butiran air kepada girel yang terus berjalan di tengah malam tanpa tujuan, tak memperdulikan meski seluruh tubuhnya basah kuyup. Gilang memang benar-benar jahat, ia sama sekali tidak mencari girel, bahkan minta maaf saja tidak.
Hingga akhirnya seorang laki-laki tampan bermobil merah menghampiri girel yang sedang berderai air mata, namun girel tak peduli dengan tawaran seorang laki-laki tampan yang mengajak girel untuk masuk ke mobil, girel  terus saja melangkah lambat dengan di banjiri rasa kecewa pada gilang, laki-laki bernama farel itu kemudian turun dan menarik tangan girel, ternyata girel dan farel adalah sahabat yang sudah lama saling kenal. Setelah berhasil membujuk girel untuk naik ke mobil , farel langsung mengantarnya pulang. Girel memang lebih cocok dengan farel di banding engan gilang.
Beberapa minggu  setelah  kejadian itu gilang di kabarkan tertangkap polisi akibat merampok dan kemudian memperkosa tante girang, kecanduan dalam menggila mengantarkan ia ke dalam sel penjara, dan setelah dapat melupakan gilang yang biadap itu, girelpun menerima cinta tulus seorang pangeran tampan, kaya, baik dan yang terpenting tulus mncintai girel. Pangeran itu bernama Fergil Firgian Tabrana atau sering di panggil Fefirta. Tepat pada tanggal 29 January. Tanggal ini menjadi saksi ikatan cinta seorang Girel Arinta dengan pasangan hati yang sesungguhnya.

Selasa, 20 Januari 2015

Setetes Darah Untuk Abah



Setetes Darah Untuk Abah

Dia telah lama bergaul dengan orang yang salah, salah satu teman mainnya adalah sang Bandar sabu. Anak sulung dari Empat bersaudara itu mempunyai Dua orang adik prempuan dan satu orang adik laki-laki. Adik prempuan di bawahnya baru saja lulus dari Sekolah Menengah Akhir yang terletak di desa sebelah, sedangkan adik laki-lakinya masih di kelas Enam Sekolah Dasar, dan adik terakhirnya yang prempuan juga masih kelas Empat Sekolah Dasar.
Awan namanya, laki-laki yang kurang lebih berusia 20 Tahun ini tinggal bersama abah dan ibunya tercinta di Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang. Aku kenal, tetapi tidak terlalu dekat dengannya. Sedikit banyak aku tau tentang kehidupannya. Rumahnya terletak tidak jauh dari rumahku. Awan adalah sosok seorang laki-laki yang tampan dan menawan farasnya, tubuhnya putih tinggi, dan sering mengunakan topi. Aku tidak tau jelas siapa pacarnya, yang aku tau, Awan menjalin hubungan asmara dengan gadis yang cantik.
Saking cintanya gadis itu dengan Awan, ia rela mengorbankan keperawanannya untuk di serahkan pada Awan, awalnya di mula dari ciuman di pipi, di bibir dan akhirnya sang selaput darah ia ihklaskan untuk di robek oleh Awan. Tanpa bersalah dan bertanggung jawab, sekarang Awan malah putus dengannya. Untung saja perbuatannya tidak membuat gadis itu hamil. Aku memang sering mendengar Awan gonta ganti pacar, tetapi tidak terlalu tau berita selanjutnya.
Dan pada suatu hari, awan di temukan oleh seorang pemuda sedang sekarat kesakitan, malam itu awan bisa jadi sudah teriak meronta-ronta dan mencoba minta pertolongan, mulutnya berbuih, tubuhnya pucat dan dingin, awan hampir saja mati akibat sakau di sebuah gudang, gudang itu adalah tempat yang biasanya ia jadikan tempat nyabu bareng dengan teman-temannya. Mungkin bagi Awan sabu adalah sahabat dekatnya yang dapat membantu dia untuk mendapatkan kenikmatan dunia. Dan tidak lama setelah di temukan sakau, pemuda sedesa yang juga mengenalnya itu langsung memanggil keluarganya, dan akhirnya awan di bawa ke rumah sakit.
Setelah beberapa minggu di rawat di rumah sakit rehabilitas Aceh Tamiang, awan di bawa pulang oleh sang abah dan ibunya, ia sempat berjanji akan benar-benar berubah dan meninggalkan dunia narkobanya itu. Awalnya abah dan ibunya sempat kaget tidak karuan, seorang awan yang tampan rupanya ternyata penguna setia sabu.
Semenjak kejadian itu abah sering sakit-sakitan, sementara ibunda Awan menjadi tulang punggung keluarga, ibunya awan sering mengambil upah tanam dan bekerja sana sini demi seribu dua ribu uang buat belanja sehari-hari. Untuk makan saja pas-pas’an, konon lagi untuk membeli obat buat sang abah. Sementara Awan bekerja hanya buat dirinya sendiri, rokoknya yang kuat membuat Awan tidak bisa berhemat.
Penyakit abah semangkin memburuk, ibu Awan menjadi kalang kabut mengurusnya, untung saja ada Resti yang membantu pekerjaan rumah dan sekaligus merawat Abah, Resti adalah adik di bawah Awan yang baru lulus SMA, Resti gadis yang baik dan jarang keluar rumah, oleh karena itu sedikit banyak resti membantu apa-apa yang ada di rumah. Tidak seperti Awan yang jarang pulang, meskipun abah sudah sakit sakitan Awan tetap saja selalu tidak menghiraukan hal itu, Awan memang laki-laki yang kurang tanggung jawab, ia seperti anak yang tidak terdidik, padahal abah dan ibunya sungguh-sungguh mendidik dia.
Suatu saat  Abah masuk rumah sakit, berhari hari Abah sudah di rawat, namun hanya sesekali Awan menjenguknya, awan seperti tidak menanggung beban, ibunya pinjam uang sana sini untuk biaya rumah sakit abah, hanya kadang-kadang Awan bekerja untuk membantu dan itu hanya sekedarnya saja.
Abah butuh donor darah golongan A, semua sanak family tidak mempunyai golongan darah A kecuali darah Awan, ibunya tau bahwa Awanlah yang punya golongan darah A seperti Abahnya, waktu di rawat di rumah sakit rehabilitas dokter sempat mengecek golongan darahnya. Hanya awan yang golongan darahnya cocok dengan abah, sedangkan adik-adiknya mengikut  golongan darah sang ibu.
Awan di telephone untuk segera datang kerumah sakit agar nyawa sang abah cepat tertolong, namun awan menolak dengan seribu alasan yang tidak masuk akal, semua pihak keluarga marah besar akan hal itu, Awanlah satu-satunya orang yang dapat mempertahankan nyawa abah, namun Awan selalu saja menghindar untuk tidak mendonorkan darahnya untuk Abah tercinta. Berkali-kali awan di telephone, namun tidak juga datang, stok darah yang bergolongan A di rumah sakit sudah kandas dan awan entah dimana.
Satu hal yang membuat awan lari dan menghindar agar bukan darahnya yang di ambil, waktu itu ada penyesalan serta kebingungan di pikiran Awan. Ia takut semua orang tau bahwa ia masih memakai narkoba. Ia mengerti bahwa pengguna narkoba sampai kapanpun tidak akan dapat mendonorkan darahnya kepada orang lain. Andai saja beberpa bulan waktu itu, setelah keluar dan sembuh dari rehabilitas awan benar-benar berhenti menjadi seorang pemakai, dan sungguh-sungguh untuk bertaubat, pasti darahnya sudah bersih dari narkoba. Tapi semua hanya tinggal penyesalan saja, kini Awan semangkin terikat oleh dunia kecanduan yang mengikatnya.
Abah di kabarkan meninggal dunia akibat kekurangan sel darah merah, Awan satu-satunya orang yang di harapkan pihak keluarga dapat mendongorkan darah tidak kunjung datang, seorang anak yang telah di besarkan dengan penuh kasih sayang dan cinta kasih tidak dapat menolong nyawanya, andai saja Awan dapat mendonorkan darahnya, mungkin abah masih bernyawa dan bernafas hingga detik ini. Narkoba telah merenggut nyawa sang abah, sekarang abah telah pergi untuk selama-lamanya. Jangankan untuk memberikan abah sekantung darah, memberinya setetes sajapun Awan tak mampu. Awan memang anak yang sangat keterlaluan. Bukan hanya hatinya yang kotor, jiwa raga dan darahnya juga ikut kotor akibat narkoba yang kejam.
Semenjak abahnya meninggal dunia, awan merasa sangat bersalah. Sekarang ia ikut bekerja dengan ayahku di sebuah tambak. Sebagian Uang yang iya dapatkan dari hasil kerjanya iya berikan kepada ibunya untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti ada banyak penyesalan pada dirinya dan hidupnya hanya gara-gara barang haram itu. Andai saja waktu dapat terulang, mungkin awan tidak akan pernah mencoba dan memakai narkoba sampai seperti ini candunya. Dan hari demi hari ia lalui tanpa seorang abah, setatusnya kini berubah menjadi yatim. Awan berjanji pada dirinya sendiri untuk meningglkan sabu dan semua barang haram itu. Ia tidak mau hanya gara-gara narkoba nyawa orang-orang yang ia sayang melayang terbang.

Ribuan Bintang Yang Ingin Aku Miliki



Hoby menulisku membuat aku menghayal Tinggi, setinggi rumput Teki yang PATAH TUMBUH.

Namaku Ugick, nama lengkapku Tugini. Aku di panggil Ugick sejak beberapa bulan setelah aku lahir. Menurut cerita orang tuaku, Awal mula nama lengkapku adalah nur asyah, namun saat itu nama nur asyah  tidak cocok untuk ku, aku sering sakit-sakitan dan akhirnya namaku diganti dengan Tugini. Entah kenapa setelah namaku diganti aku tak lagi sakit-sakitan hingga sekarang. Aku lahir di Desa Sungai Kuruk 1, Dusun Bangun rejo, Kecamatan Seruway, kabupaten Aceh Tamiang pada 26 November 1996 lalu. Aku anak ke-3 dari 4 bersaudara, aku punya satu kakak laki-laki bernama Hari Nurman, satu kakak Prempuan bernama Nuriah dan satu adik laki-laki bernama Muhammad Arifin. kami tinggal bersama dengan ayah dan ibunda tercinta di sini,  masih di tempat kelahiranku dulu. Di rumah reot yang penuh dengan cerita kisah kasih kehidupan kami. Jutaan kenangan telah terekam oleh waktu, ribuan kesederhanaan ada pada kami. Berharap suatu saat nanti hidup yang sederhana ini akan berubah, dan jutaan kemiskinan akan menjadi miliyaran kebahagiaan untuk kami. Aku tau Allah SWT tak pernah tidur.
Sekarang usiaku hampir 18 tahun sudah, aku bukan lagi anak kecil yang munggil seperti  dulu. sekarang aku adalah sosok perempuan yang selalu menggantungkan jutaan bintang di langgit, bintang-bintang itu adalah cita-cita dan harapanku. Entah dari mana harus menggapainya, entah dengan apa meraihnya, entah kapan akan memetik jutaan bintang yang telah ku gantung itu. Yang penting menrutku adalah aku harus dapat memiliki bintang itu, aku butuh satu bintang yang membuat hidupku berkilau. Aku harus sukses, dan aku harus buktikan bahwa aku dapat merubah nasib, mama dan bapak, aku pasti bisa membahagiakanmu. Tidak sekarang, tapi nanti,.!
Entah dari mana aku harus memulai kesuksesan, sekarang aku hanya dapat berjalan mengikuti arah jarum jam, in’sya’Allah satu tahun lagi aku lulus dari sekolahku, SMK Negeri 1 Bendahara, di sekolah ini aku menimba banyak-banyak ilmu, di sini aku di ajari banyak hal yang awalnya tak ku tau apa. Dan Sekarang aku berada di kelas XII jurusan TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan), waktu terus berjalan tanpa henti, hari demi hari aku lalui dengan berbagai cerita, lembaran hidupku semangkin banyak terisi. Aku bangga jadi anak SMK, aku senang sekolah di sini.
Selama dua tahun belakangan ini, aku selalu siap dan tetap siap untuk berangkat kesekolah, pagi buta jadi saksi, setiap hari aku harus berangkat ke Sekolah pada Pukul 06:30 WIB, Alhamdullillah, sekarang aku sudah kelas tiga tapi sekalipun tak pernah aku terlambat kesekolah, meskipun rumahku berada di desa sebrang sana. Namun tidak menjadi alasan untuk terlambat, kedisiplinan yang di ajarkan di sekolah membuat aku rajin bangun pagi, sholat subuh, dan datang ke Sekolah tepat waktu. Keadaan selalu menuntutku untuk bertanggung jawab atas diri sendiri. Satu prinsipku, yaitu “bersaing dengan diri sendiri, baru kemudian dengan orang lain,”. Dan satu yang tetap aku inggat, yaitu “kesuksesan ada pada diri kita sendiri,”. Ayolah kawan, kita pasti bisa..!!
BerDo’a dan berusaha, iya,.. aku akan tetap berdo’a dan terus berusaha untuk sebuah kesuksesan, hari ini aku bukan siapa-siapa, sekarang aku bukan apa-apa, tapi nanti suatu saat, aku akan buktikan, siapa sosok seorang ugick sebenarnya. In’sya’Allah. Allah tau apa yang terbaik untuk kita.


Bukan Siapa Siapa

Rahasia 2015 di Balik Cinta



Rahasia 2015 di Balik Ciuman

Hujan terus saja turun dengan serombong butiran air yang datang dari langit gelap, dengan menggendong tas hitamku aku berjalan bagai tak dapat terlihat, malam itu sangat ramai, kota Sumatra di penuhi oleh orang-orang yang sedang merayakan pergantian Tahun. Rabu malam yang indah, sangat indah ku rasa, jutaan lampu warna warninya berkelip-kelip menghiasi akhir malam 2014. Hujan deras yang turun seakan menyambut datangnya Tahun 2015 yang hanya tinggal satu jam lagi.
Aku terus berjalan bersama dengan butiran air hujan dan lampu hias di sana sini, lapangan bundar kota  Sumatra yang tampak indah itu membawa aku ke suatu tempat untuk bernaung. Tempat itu sangat ramai, bangunan yang berbentuk persegi panjang tampa dinding itu di penuhi oleh semua kalangan orang, dari anak bayi yang masih di gendong ibunya, sampai kakek-kakek yang berada di belakangku. Hujan yang deras itu berhasil membasahi baju kaos putih hitam dan celana jeans yang aku pakai, Jaket coklat dan tas hitamku juga ikut basah karena hujan. Rasa dingin yang mendekap di tubuhku seakan tak mau pergi. Sesekali orang-orang melirik ke arahku yang basah dan kedinginan ini, namun orang-orang itu tidak menghiraukan aku karena sebagian besar orang di sana juga merasa kedinginan.
Banyak orang yang melintas di depanku, maklum saja, tempat itu menampung kurang lebih lima ratus orang yang bernaung dari hujan, lalu lalang di depanku tidak membuat aku heran. Ada dua orang  laki-laki berwajah manis berdiri di sampingku, keberadaanya membuat aku merasa tidak nyaman, Tapi hal itu tidak berlangsung lama, dua orang pemuda itu segera beranjak pergi entah kemana. Namun ada hal yang membuat aku semakin merasa tidak nyaman, selain harus menahan rasa dingin, dan ngantuk yang tak berkesudahan aku juga harus menahan cemburu melihat sepasang kekasih yang bermersaan di depanku. Dua orang itu tampak sangat menikmati malam yang kehujanan, tepat sekali berada di depan kedua mataku.
Aku tak tau mereka siapa, melihatnya saja hanya baru sekali dan hanya malam itu. Aku rasa mereka adalah sepasang kekasih yang sudah lama pacaran, dua orang yang sangat dekat dan mesra itu seakan tidak mehiraukan ratusan orang yang ada di sana. Dunia hanya milik mereka saja, yang lain bagai pohon yang hanya goyang saat di tiup angin kencang, sementara mereka adalah sepasang Ratu dan Raja yang ada di bumi. begitulah seumpamanya bagi mereka menurutku saat itu.
Sambil mendengar konser musik yang di gelar di tengah lapangan bundar Sumatra Utara, sesekali aku melirik apa saja yang mereka lakukan serta mendengar setiap kata yang terucap dari perbincagan mereka. Sebenarnya tanpa harus segaja melihat atau sengaja mendengar, aku sangat jelas untuk tau hal itu, bagaimana tidak, mereka berada tepat sekali di depanku dan hanya berjarak kurang lebih 50 cm saja. Aku sangat tau apa yang mereka lakukan di depanku.
Dengan perlahan dan sangat pasti, satu kecupan telah mendarat di pipi cewek berjilbab merah jambu itu. Ciuman itu ia dapat dari sang cowok yang ada bersamanya. Tampa merasa canggung atau segan dengan ratusan orang yang ada di sana pelukan dan kemesraan lain juga mereka pamerkan kepada semua orang. Hanya kurang lebih satu jam mereka berada di depanku, namun sangat banyak kata-kata manis yang keluar dari kedua orang yang sedang bercinta itu. Kadang gombal yang terucap dari mulut indah sang cowok juga di balas oleh sang cewek.
Cewek berjilbab itu seakan menjadikan jilbabnya sebagai tutup dari keburukan dalam hati dan prilakunya. Bagaimana jika aku yang berada di posisinya saat itu, akan sangat malu jika di tonton dengan banyak orang di belakangnya, namun mengapa tidak ada satupun orang yang merespon semua yang dilakukan sepasang remaja itu. Semua orang bagai patung dan saksi bisu cinta mereka. Tidak ada yang memperdulikan apapun yang mereka lakukan. Meski anak-anak sampai orang dewasa.
Malam tahun baru memang indah, puluhan kembang api yang pecah di atas langit bagai tak terkira indahnya, tak lama setelah hujan berhenti pergantian tahun 2014 menjadi 2015 telah datang.  Sepasang kekasih yang sedang bercumbu tak ku hiraukan lagi. Tidak ada yang aku dapat dari mereka, selain malu melihat keduanya.

Cerita Cinta Ugick



PTHT Patah Tumbuh Hilang Terganti

Pagi menyapa dengan jantung penuh debar, saat itu aku sedang duduk bersama puluhan orang asing yang tak ku kenali, ruangan yang berbentuk persegi  itu di penuhi orang-orang terpilih yang di utus oleh masing-masing sekolah, tujuannya adalah untuk bergabung dengan sebuah organisasi.  Organisasi itu adalah HIMPRATA yang merupakan Himpunan Mahasiswa/i Pelajar Aceh Tamiang, untuk menjadi penerus yang baik.
Semua mata tertuju dan terfokus pada satu sumber suara yang menjelaskan tentang Organisasi itu, namun tidak dengan sepasang mataku, juga sepasang mata seseorang yang tak ku tau namanya. Seorang laki-laki sebaya denganku terlihat sedang memperhatikanku dengan mata lembut. Setiap sepasang mataku membalas tatapan itu, maka perhatiannya langsung di alihkan ke arah lain. Entah apa yang salah padaku. Bukankah aku tak mengenalnya. Lantas  mengapa ia memperhatikanku hingga sedemikian.
Panitia di organisasi itu mengharuskan semua peserta untuk saling mengenal satu sama lain, tiba saatnya giliran aku memperkenalkan diri, setelah semua orang tau bahwa namaku adalah UGIK, aku di persilahkan duduk kembali, kemudian selanjutnya laki-laki yang dari tadi memandangiku maju kedepan dan berlaku sama seperti peserta lain, yaitu memperkenalkan diri, dan baru ku tau namanya adalah RAMA, lantas mengapa ia meperatikanku dari tadi?, perhatiannya telah membuatku salah tingkah tidak karuan.
Setelah perkenalan dan semua materi juga telah di susun, saatnya kami harus berbagi kamar yang akan kami tempati selama 3 hari, wanita dan pria di pisahkan ruangannya, namun tetap tidak terlalu jauh agar memudahkan kami untuk tetap berintraksi satu sama lain. Tempat itu terlalu senyap, maklum saja, karna bangunannya merupakan bangunan yang sangat jarang di huni. Beberapa peserta lain ada yang melihat makhluk-makhluk aneh bahkan ada juga yang kesurupan, tempat itu memang terkesan angker dan menakutkan.
Aku mulai akrab dengan Rama, namun sayang 3 hari telah berlalu, pelaksanaan organisasi itu selesai, Semua peserta HIMPRATA telah sah menjadi anggota. Kami kembali kesekolah dan meninggalkan tempat itu dengan membawa sertifikat HIMPRATA, senang karena telah menjadi anggota HIMPRATA namum sedih karena harus berpisah dengan teman baru yang bernama Rama. Kedekatan kami hanya sebatas Organisasi saja, tapi setelah sampai di rumah, Rama langsung mengabariku lewat SMS yang isinya adalah “ini aku Rama, kapan2 kita jumpa lagi ya!! dan Kalo boleh aku pengen main2 kerumah kamu kalo kangen, oiya, jangan lupa di simpan ya nomor aku”,. Senang bisa kenal dengan Rama, selain asik, Rama adalah cowok manis dan juga pintar, siapa saja pasti akan senang berteman dengannya.
Empat Bulan Berlalu, aku hilang kabar tentang Rama dalam empat bulan itu, namun Allah mempertemukan kami lagi, tiba-tiba Rama datang kerumahku bersama Nata, Nata adalah salah seorang anggota HIMPRATA yang sangat dekat dengan Rama, dua orang laki-laki yang sangat bersahabat itu memang seperti air dengan laut yang selalu bersama. Entah dari mana mereka tau rumahku, seingatku Rama hanya ku beri tahu alamatku saja, dan itu sudah beberapa bulan lalu, ingatan rama memang paten, tak sepertiku yang pelupa.
Hari demi hari aku dan rama semakin dekat, malah aku lebih dekat dengannya daripada dengan Faza pacarku sendiri, dan akhirnya aku dan Rama jadian, tapi sebelum jadian aku memutuskan untuk  putus dengan Faza dan pindah ke hati Rama, karena Rama adalah laki-laki yang sangat aku cintai. Namun sayang, kedekatan kami harus terpisah oleh jarak, aku di tugaskan untuk melaksanakan PSG di Binjai Sumatra Utara, PSG adalah Peraktek Sistem Ganda yang harus di laksanakan oleh setiap anak Sekolah Menegah Kejuruan sepertiku. Jarak antara Binjai Smatra Utara dengan Aceh Tamiang tidaklah dekat, membutuhkn waktu kurang lebih 3-4 jam perjalanan, oleh karena itu aku terpaksa harus tinggal di rumah kos-kosan selama 3 bulan saat menjalankan tugas sekolah.
Aku jarang pulang kerumah, bahkan selama melaksanakan tugas sekolah, aku hanya pulang 2 kali dan selebihnya hanya di kos saja, aku terfokus dengan PSGku saja waktu itu,  tapi hubungan aku dengan Rama tetap baik-baik saja, setiap luang waktu yang ku punya selalu ku tuangkan untuk pacarku Rama. Tiga bulan sudah berlalu, aku telah menyelesaikan tugasku dengan nilai bagus.
Aku sangat menyayangi Rama, dan memberikan kepercayaan penuh padanya, akibatnya Rama semakin tak menghargaiku, aku memang sangat jarang bertemu dengannya, selama ini kami hanya berkomunikasi melalui handpone saja. Baru sebulan aku di rumah, Rama ketahuan selingkuh di belakangku, selingkuhannya adalah teman Facebook ku sendiri. Waktu itu aku sangat terpukul, air mata tak terbendung rasanya. Tapi aku sadar menangis adalah tindakan yang membuat para cowok playboy merasa di rebuti bidadari bumi, aku kecewa dengan Rama,  sangat kecewa, hatiku bagai di pentung palu dan di tusuk paku-paku tumpul, aku biarkan dia hingga berhari-hari. Tujuannya adalah supaya dia merasa kehilanganku, selain itu aku juga bisa lebih tenang dalam mempersiapkan hati untuk menghaapi Rama. Hingga akhirnya dia menghubungiku dan meminta maaf dengan semua salahnya padaku. Aku tak mau peduli, dimataku sekarang Rama adalah satu-satunya orang yang paling berkhianat dan tidak boleh dimaafkan kesalahannya. Aku sangat marah padanya, rasanya ingin sekali datang padanya dengan membawa segunung batu bata dan melempar batu bata itu kewajahnya hingga ia terkubur dan mati di dalamnya.
Lagi-lagi dia menghubungiku, aku masih teringat pada saat Tujuh hari lalu ketika aku mengetahui bahwa ia selingkuh, dan lagi-lagi hatiku bagai teriris pisau yang berkarat, dan aku sadar, aku gak boleh seperti ini terus, aku harus siap menghadapi cinta yang pahit ini, selama ini aku jarang makan dan susah tidur hanya gara-gara Rama yang bajingan itu, bahkan sekolah ku juga sempat terganggu gara-gara Rama. Aku tetap tidak akan menghubungi Rama lagi sampai sakit hatiku terobati, maaf darinya tidak akan cukup untukku. Aku angkat telpon dari Rama dan bilang padanya bahwa aku tidak mau di ganggu olehnya.
Dua hari lagi ada acara besar yang di laksanakan secara resmi di sekolahku, yaitu acara pelepasan kakak kelasku. Acara perpisahan anak kelas Tiga sudah dari dua minggu lalu di persiapkan, kebetulan aku di tunjuk sebagai Emsi tunggalnya, aku satu-satunya orang yang di percaya untuk menjadi Protokol pada acara itu. Aku tidak yakin untuk tampil kedepan membar dan di lihat oleh ratusan orang yang hadir di acara itu, apalagi dengan suasana hati yang sangat hancur ini. “Ya Allah bantu aku dalam menghabiskan waktumu agar dapat berjalan dengan lancar,”. Saat itu aku hanya dapat berdoa dan tetap latihan menyambut hari H acara perpisahan nanti. Sebelumnya aku sempat menolak dan meminta agar di gantikan oleh orang lain yang lebih siap, tapi apa boleh buat sepertinya memang aku yang harus maju.
Satu hari sebelum acara itu dimulai Rama menghubungiku lagi, ia bilang padaku bahwa ia akan melakukan apa saja yang aku mau, agar aku dapat memaafkannya dan kembali padanya lagi. Oke, aku akan memaafkan dia asal dia mau memenuhi syarat dariku. 
“Nanti malam kamu harus datang kerumahku tepat jam 08.00 WIB dengan membawa 13 tangkai bungga mawar merah, dan aku mau hanya satu yang asli dan selebihnya adalah mawar palsu,”. Kataku.
“oke, aku akan datang tepat waktu dengan membawa yang kamu mau,” jawabnya, Rama sepertinya yakin bahwa ia akan bisa membawakan itu semua untukku. Namun aku lebih yakin  bahwa Rama pasti tidak akan repot-repot melalukannya. Apalagi saat ini tidak sedang musim tukang bungga, dan aku pastikan akan sangat sulit untuk mendapatkannya dalam waktu yang sesingkat ini.
Sekarang sudah pukul 08.30 WIB Rama tak juga kunjung datang, aku rasa dia memang lebih memilih selingkuhannya yang bernama Ove itu, apa lagi dia lebih cantik dari pada aku, cewek yang masih Sekolah Menegah Pertama itu lebih cocok dengan Rama di banding aku. Dengan keadaan hujan deras seperti ini kemungkinannya sangat kecil seorang Rama akan datang kepadaku. Aku rasa aku memang orang bodoh yang mau percaya dan memberi kesempatan lebih pada Rama.
Tapi akhirnya penantianku malam itu berakhir, aku mendengar suara motor Rama semakin dekat dengan halaman rumahku, iya, dia memang benar-benar Rama yang basah kuyup karena kehujanan.
“ugik,.. coba bukakan pintu, itu sepertinya ada yang datang”, kata mama seraya menyuruhku, padahal aku sudah tau sebenarnya yang datang adalah Rama.
“iya ma, sebentar”,  kemudian aku langsung membuka pintu, tetapi tidak mempersilahkan Rama masuk, Rama yang sedang kedinginan itu hanya aku persilahkan duduk di kursi depan rumahku. Ia datang terlambat karena di bentengi oleh hujan yang deras, awalnya ia memang berencana untuk tidak datang, namun ia teringat oleh janjinya padaku. Sepertinya ia memang tidak sungguh-sungguh mencintaiku, hanya karena hujan saja ia sudah berniat untuk tidak datang, meskipun akhirnya ia tetap menepati janjinya.
“kau menyuruhku datang tepat jam Delapan, tapi aku malah terlambat setengah jam, maafkan aku, dan sekarang aku tidak dapat membawa satu mawar merah yang asli bersama dengan 12 mawar palsu lainya, aku hanya membawa tiga tangkai mawar dan itupun mawar asli semua, ku harap kau maafkan aku”.
Aku hanya diam saat mendengar penjelasannya dan mencoba untuk menahan air mataku, aku tidak mau jika air mataku pecah di depannya. Aku tau bahwa menangis di depannya akan membuat ia semakin merasa di cintai, meskipun sebenarya aku memang menintainya. Aku lebih banyak diam saat itu, rasa kecewaku padanya terlalu besar, tidak ada rasa kasihan padanya meski tubuhnya kedinginan karena baju basah yang menempel di badannya. Untuk melontarkan kata manis saja enggan apalagi menyuguhinya selembar handuk kering untuk membersihkan tubuhnya yang basah.
“mengapa aku harus membawa 13 tangkai mawar merah untukmu? Dan mengapa harus 12 di antaranya adalah mawar palsu dan satu mawar asli? Apakah cinta kita hanya sebatas mawar yang akan segera layu?”
Keheninganku tiba-tiba di pecahkan oleh pertanyaannya padaku dan kemudian aku hanya menjawab “mengapa kamu berkhianat padaku, untuk mencari mawar palsu saja kamu tak sanggup apa lagi untuk menjaga rasa cintaku padamu?”,
Dan sekarang ia menangis meneteskan air mata di depanku, aku sangat tak menyangka hal itu terjadi, tetesan air mata yang ia jatuhkan membuat aku tak ingin menatapnya. Rasanya aku juga ingin menagis, namun tetap aku tahan agar tidak kelihatan lebih lemah darinya.
Kemudian aku menjelaskan apa maksudku menyuruhnya agar membawakan semua mawar itu, sambil sesekali mengusap air matanya ia mendengarkan, “dua belas mawar asli itu adalah mantan kekasih yang pernah aku cintai dulu, dan semua itu hanyalah cinta yang biasa saja, aku tidak mencintai semua orang-orang itu dengan kesungguhan, semua telah menjadi kenangan indah yang tak akan pernah layu, sedangkan mawar asli itu adalah kamu, aku mencintaimu dengan sungguh-sungguh sepenuh hatiku, tapi kini kau telah buat layu bunga yang segar dan harum itu, keindahan cinta telah kau patahkan Rama,aku sangat kecewa padamu, sekarang pulanglah sana, aku telah memaafkanmu tapi tidak akan kembali denganmu. Pergilah bersama Ove, aku rasa dia lebih membutuhkanmu dibanding aku.”.
Rama menjabat tanganku, namun aku melepasnya sambil berkata “jagalah Ove dan cintailah dia, aku tidak akan menggangu hidupmu lagi, dan ku harap kau juga begitu, dan dengar lah Rama sayangku, semoga kau tak akan pernah menyesalkan perbuatanmu”.
Aku tak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari mulutnya lagi, setelah itu aku tinggalkan ia masuk ke dalam kamar. Aku melihat dari jendela kamarku, ia meninggalkan halaman rumahku seperti penuh kecewa, gerimis jadi saksi cinta kami yang telah kandas. Aku harus melupakan Rama, harus. Dalam hati kecilku berniat untuk pergi jauh dari hati Rama dan tidak mengingatnya lagi.
Setelah pagi datang, aku segera bergegas untuk berangkat kesekolah, hari itu aku harus tampil sebagai emsi yang ceria, layak seperti tak ada masalah pada diriku, aku menyelesaikan semua tugas dengan sempurna, dan baru ku tau bahwa Rama bukanlah alasan untuk tidak bersemangat hidup bagiku. Dan hidup itu PTHT menurutku, Patah Tumbuh  Hilang Terganti, aku kini belajar dari pengalaman buruk tentang pacaran, aku paham bahwa mencintai orang dengan cara berlebihan tidak akan menuai hasil yang baik, dan seburuk apapun pengalaman kita, itulah yang menjadi guru di masa yang akan datang.
Kemudian beberapa bulan setelah itu aku memutuskan untuk menerima cinta seorang pangeran manis yang bernama Andra, meskipun masih ada luka karena Rama aku akan tetap mencoba mencintai Andra.


By_UGICK
………………………………………..TERIMAKASIH………………………………………......