PTHT
Patah Tumbuh Hilang Terganti
Pagi menyapa dengan
jantung penuh debar, saat itu aku sedang duduk bersama puluhan orang asing yang
tak ku kenali, ruangan yang berbentuk persegi
itu di penuhi orang-orang terpilih yang di utus oleh masing-masing
sekolah, tujuannya adalah untuk bergabung dengan sebuah organisasi. Organisasi itu adalah HIMPRATA yang merupakan
Himpunan Mahasiswa/i Pelajar Aceh Tamiang, untuk menjadi penerus yang baik.
Semua mata tertuju dan
terfokus pada satu sumber suara yang menjelaskan tentang Organisasi itu, namun
tidak dengan sepasang mataku, juga sepasang mata seseorang yang tak ku tau
namanya. Seorang laki-laki sebaya denganku terlihat sedang memperhatikanku
dengan mata lembut. Setiap sepasang mataku membalas tatapan itu, maka
perhatiannya langsung di alihkan ke arah lain. Entah apa yang salah padaku. Bukankah
aku tak mengenalnya. Lantas mengapa ia
memperhatikanku hingga sedemikian.
Panitia di organisasi
itu mengharuskan semua peserta untuk saling mengenal satu sama lain, tiba
saatnya giliran aku memperkenalkan diri, setelah semua orang tau bahwa namaku
adalah UGIK, aku di persilahkan duduk kembali, kemudian selanjutnya laki-laki
yang dari tadi memandangiku maju kedepan dan berlaku sama seperti peserta lain,
yaitu memperkenalkan diri, dan baru ku tau namanya adalah RAMA, lantas mengapa
ia meperatikanku dari tadi?, perhatiannya telah membuatku salah tingkah tidak
karuan.
Setelah perkenalan dan
semua materi juga telah di susun, saatnya kami harus berbagi kamar yang akan
kami tempati selama 3 hari, wanita dan pria di pisahkan ruangannya, namun tetap
tidak terlalu jauh agar memudahkan kami untuk tetap berintraksi satu sama lain.
Tempat itu terlalu senyap, maklum saja, karna bangunannya merupakan bangunan
yang sangat jarang di huni. Beberapa peserta lain ada yang melihat
makhluk-makhluk aneh bahkan ada juga yang kesurupan, tempat itu memang terkesan
angker dan menakutkan.
Aku mulai akrab dengan
Rama, namun sayang 3 hari telah berlalu, pelaksanaan organisasi itu selesai, Semua
peserta HIMPRATA telah sah menjadi anggota. Kami kembali kesekolah dan
meninggalkan tempat itu dengan membawa sertifikat HIMPRATA, senang karena telah
menjadi anggota HIMPRATA namum sedih karena harus berpisah dengan teman baru
yang bernama Rama. Kedekatan kami hanya sebatas Organisasi saja, tapi setelah
sampai di rumah, Rama langsung mengabariku lewat SMS yang isinya adalah “ini aku Rama, kapan2 kita jumpa lagi ya!!
dan Kalo boleh aku pengen main2 kerumah kamu kalo kangen, oiya, jangan lupa di
simpan ya nomor aku”,. Senang bisa kenal dengan Rama, selain asik, Rama
adalah cowok manis dan juga pintar, siapa saja pasti akan senang berteman
dengannya.
Empat Bulan Berlalu,
aku hilang kabar tentang Rama dalam empat bulan itu, namun Allah mempertemukan
kami lagi, tiba-tiba Rama datang kerumahku bersama Nata, Nata adalah salah
seorang anggota HIMPRATA yang sangat dekat dengan Rama, dua orang laki-laki
yang sangat bersahabat itu memang seperti air dengan laut yang selalu bersama.
Entah dari mana mereka tau rumahku, seingatku Rama hanya ku beri tahu alamatku
saja, dan itu sudah beberapa bulan lalu, ingatan rama memang paten, tak
sepertiku yang pelupa.
Hari demi hari aku dan
rama semakin dekat, malah aku lebih dekat dengannya daripada dengan Faza
pacarku sendiri, dan akhirnya aku dan Rama jadian, tapi sebelum jadian aku
memutuskan untuk putus dengan Faza dan
pindah ke hati Rama, karena Rama adalah laki-laki yang sangat aku cintai. Namun
sayang, kedekatan kami harus terpisah oleh jarak, aku di tugaskan untuk
melaksanakan PSG di Binjai Sumatra Utara, PSG adalah Peraktek Sistem Ganda yang
harus di laksanakan oleh setiap anak Sekolah Menegah Kejuruan sepertiku. Jarak
antara Binjai Smatra Utara dengan Aceh Tamiang tidaklah dekat, membutuhkn waktu
kurang lebih 3-4 jam perjalanan, oleh karena itu aku terpaksa harus tinggal di
rumah kos-kosan selama 3 bulan saat menjalankan tugas sekolah.
Aku jarang pulang
kerumah, bahkan selama melaksanakan tugas sekolah, aku hanya pulang 2 kali dan
selebihnya hanya di kos saja, aku terfokus dengan PSGku saja waktu itu, tapi hubungan aku dengan Rama tetap baik-baik
saja, setiap luang waktu yang ku punya selalu ku tuangkan untuk pacarku Rama.
Tiga bulan sudah berlalu, aku telah menyelesaikan tugasku dengan nilai bagus.
Aku sangat menyayangi
Rama, dan memberikan kepercayaan penuh padanya, akibatnya Rama semakin tak
menghargaiku, aku memang sangat jarang bertemu dengannya, selama ini kami hanya
berkomunikasi melalui handpone saja. Baru
sebulan aku di rumah, Rama ketahuan selingkuh di belakangku, selingkuhannya
adalah teman Facebook ku sendiri.
Waktu itu aku sangat terpukul, air mata tak terbendung rasanya. Tapi aku sadar
menangis adalah tindakan yang membuat para cowok playboy merasa di rebuti bidadari bumi, aku kecewa dengan
Rama, sangat kecewa, hatiku bagai di
pentung palu dan di tusuk paku-paku tumpul, aku biarkan dia hingga
berhari-hari. Tujuannya adalah supaya dia merasa kehilanganku, selain itu aku
juga bisa lebih tenang dalam mempersiapkan hati untuk menghaapi Rama. Hingga
akhirnya dia menghubungiku dan meminta maaf dengan semua salahnya padaku. Aku
tak mau peduli, dimataku sekarang Rama adalah satu-satunya orang yang paling
berkhianat dan tidak boleh dimaafkan kesalahannya. Aku sangat marah padanya,
rasanya ingin sekali datang padanya dengan membawa segunung batu bata dan
melempar batu bata itu kewajahnya hingga ia terkubur dan mati di dalamnya.
Lagi-lagi dia
menghubungiku, aku masih teringat pada saat Tujuh hari lalu ketika aku
mengetahui bahwa ia selingkuh, dan lagi-lagi hatiku bagai teriris pisau yang
berkarat, dan aku sadar, aku gak boleh seperti ini terus, aku harus siap
menghadapi cinta yang pahit ini, selama ini aku jarang makan dan susah tidur
hanya gara-gara Rama yang bajingan itu, bahkan sekolah ku juga sempat terganggu
gara-gara Rama. Aku tetap tidak akan menghubungi Rama lagi sampai sakit hatiku
terobati, maaf darinya tidak akan cukup untukku. Aku angkat telpon dari Rama
dan bilang padanya bahwa aku tidak mau di ganggu olehnya.
Dua hari lagi ada acara
besar yang di laksanakan secara resmi di sekolahku, yaitu acara pelepasan kakak
kelasku. Acara perpisahan anak kelas Tiga sudah dari dua minggu lalu di
persiapkan, kebetulan aku di tunjuk sebagai Emsi tunggalnya, aku satu-satunya orang
yang di percaya untuk menjadi Protokol pada acara itu. Aku tidak yakin untuk
tampil kedepan membar dan di lihat oleh ratusan orang yang hadir di acara itu,
apalagi dengan suasana hati yang sangat hancur ini. “Ya Allah bantu aku dalam menghabiskan waktumu agar dapat berjalan
dengan lancar,”. Saat itu aku hanya dapat berdoa dan tetap latihan
menyambut hari H acara perpisahan nanti. Sebelumnya aku sempat menolak dan
meminta agar di gantikan oleh orang lain yang lebih siap, tapi apa boleh buat sepertinya
memang aku yang harus maju.
Satu hari sebelum acara
itu dimulai Rama menghubungiku lagi, ia bilang padaku bahwa ia akan melakukan
apa saja yang aku mau, agar aku dapat memaafkannya dan kembali padanya lagi.
Oke, aku akan memaafkan dia asal dia mau memenuhi syarat dariku.
“Nanti
malam kamu harus datang kerumahku tepat jam 08.00 WIB dengan membawa 13 tangkai
bungga mawar merah, dan aku mau hanya satu yang asli dan selebihnya adalah
mawar palsu,”. Kataku.
“oke,
aku akan datang tepat waktu dengan membawa yang kamu mau,”
jawabnya, Rama sepertinya yakin bahwa ia akan bisa membawakan itu semua
untukku. Namun aku lebih yakin bahwa
Rama pasti tidak akan repot-repot melalukannya. Apalagi saat ini tidak sedang
musim tukang bungga, dan aku pastikan akan sangat sulit untuk mendapatkannya dalam
waktu yang sesingkat ini.
Sekarang sudah pukul
08.30 WIB Rama tak juga kunjung datang, aku rasa dia memang lebih memilih
selingkuhannya yang bernama Ove itu, apa lagi dia lebih cantik dari pada aku,
cewek yang masih Sekolah Menegah Pertama itu lebih cocok dengan Rama di banding
aku. Dengan keadaan hujan deras seperti ini kemungkinannya sangat kecil seorang
Rama akan datang kepadaku. Aku rasa aku memang orang bodoh yang mau percaya dan
memberi kesempatan lebih pada Rama.
Tapi akhirnya
penantianku malam itu berakhir, aku mendengar suara motor Rama semakin dekat
dengan halaman rumahku, iya, dia memang benar-benar Rama yang basah kuyup
karena kehujanan.
“ugik,..
coba bukakan pintu, itu sepertinya ada yang datang”,
kata mama seraya menyuruhku, padahal aku sudah tau sebenarnya yang datang
adalah Rama.
“iya
ma, sebentar”,
kemudian aku langsung membuka pintu, tetapi tidak mempersilahkan Rama
masuk, Rama yang sedang kedinginan itu hanya aku persilahkan duduk di kursi
depan rumahku. Ia datang terlambat karena di bentengi oleh hujan yang deras,
awalnya ia memang berencana untuk tidak datang, namun ia teringat oleh janjinya
padaku. Sepertinya ia memang tidak sungguh-sungguh mencintaiku, hanya karena
hujan saja ia sudah berniat untuk tidak datang, meskipun akhirnya ia tetap
menepati janjinya.
“kau
menyuruhku datang tepat jam Delapan, tapi aku malah terlambat setengah jam,
maafkan aku, dan sekarang aku tidak dapat membawa satu mawar merah yang asli
bersama dengan 12 mawar palsu lainya, aku hanya membawa tiga tangkai mawar dan
itupun mawar asli semua, ku harap kau maafkan aku”.
Aku hanya diam saat
mendengar penjelasannya dan mencoba untuk menahan air mataku, aku tidak mau
jika air mataku pecah di depannya. Aku tau bahwa menangis di depannya akan
membuat ia semakin merasa di cintai, meskipun sebenarya aku memang menintainya.
Aku lebih banyak diam saat itu, rasa kecewaku padanya terlalu besar, tidak ada
rasa kasihan padanya meski tubuhnya kedinginan karena baju basah yang menempel
di badannya. Untuk melontarkan kata manis saja enggan apalagi menyuguhinya
selembar handuk kering untuk membersihkan tubuhnya yang basah.
“mengapa
aku harus membawa 13 tangkai mawar merah untukmu? Dan mengapa harus 12 di
antaranya adalah mawar palsu dan satu mawar asli? Apakah cinta kita hanya
sebatas mawar yang akan segera layu?”
Keheninganku tiba-tiba
di pecahkan oleh pertanyaannya padaku dan kemudian aku hanya menjawab “mengapa kamu berkhianat padaku, untuk
mencari mawar palsu saja kamu tak sanggup apa lagi untuk menjaga rasa cintaku
padamu?”,
Dan sekarang ia
menangis meneteskan air mata di depanku, aku sangat tak menyangka hal itu
terjadi, tetesan air mata yang ia jatuhkan membuat aku tak ingin menatapnya.
Rasanya aku juga ingin menagis, namun tetap aku tahan agar tidak kelihatan
lebih lemah darinya.
Kemudian aku
menjelaskan apa maksudku menyuruhnya agar membawakan semua mawar itu, sambil
sesekali mengusap air matanya ia mendengarkan, “dua belas mawar asli itu adalah mantan kekasih yang pernah aku cintai
dulu, dan semua itu hanyalah cinta yang biasa saja, aku tidak mencintai semua
orang-orang itu dengan kesungguhan, semua telah menjadi kenangan indah yang tak
akan pernah layu, sedangkan mawar asli itu adalah kamu, aku mencintaimu dengan
sungguh-sungguh sepenuh hatiku, tapi kini kau telah buat layu bunga yang segar
dan harum itu, keindahan cinta telah kau patahkan Rama,aku sangat kecewa
padamu, sekarang pulanglah sana, aku telah memaafkanmu tapi tidak akan kembali
denganmu. Pergilah bersama Ove, aku rasa dia lebih membutuhkanmu dibanding
aku.”.
Rama menjabat tanganku,
namun aku melepasnya sambil berkata “jagalah
Ove dan cintailah dia, aku tidak akan menggangu hidupmu lagi, dan ku harap kau
juga begitu, dan dengar lah Rama sayangku, semoga kau tak akan pernah
menyesalkan perbuatanmu”.
Aku tak ingin
mendengarkan penjelasan apapun dari mulutnya lagi, setelah itu aku tinggalkan
ia masuk ke dalam kamar. Aku melihat dari jendela kamarku, ia meninggalkan
halaman rumahku seperti penuh kecewa, gerimis jadi saksi cinta kami yang telah
kandas. Aku harus melupakan Rama, harus. Dalam hati kecilku berniat untuk pergi
jauh dari hati Rama dan tidak mengingatnya lagi.
Setelah pagi datang,
aku segera bergegas untuk berangkat kesekolah, hari itu aku harus tampil
sebagai emsi yang ceria, layak seperti tak ada masalah pada diriku, aku
menyelesaikan semua tugas dengan sempurna, dan baru ku tau bahwa Rama bukanlah
alasan untuk tidak bersemangat hidup bagiku. Dan hidup itu PTHT menurutku,
Patah Tumbuh Hilang Terganti, aku kini
belajar dari pengalaman buruk tentang pacaran, aku paham bahwa mencintai orang
dengan cara berlebihan tidak akan menuai hasil yang baik, dan seburuk apapun
pengalaman kita, itulah yang menjadi guru di masa yang akan datang.
Kemudian beberapa bulan
setelah itu aku memutuskan untuk menerima cinta seorang pangeran manis yang
bernama Andra, meskipun masih ada luka karena Rama aku akan tetap mencoba
mencintai Andra.
By_UGICK
………………………………………..TERIMAKASIH………………………………………......