Rahasia 2015 di Balik Ciuman
Hujan terus saja turun dengan
serombong butiran air yang datang dari langit gelap, dengan menggendong tas
hitamku aku berjalan bagai tak dapat terlihat, malam itu sangat ramai, kota
Sumatra di penuhi oleh orang-orang yang sedang merayakan pergantian Tahun. Rabu
malam yang indah, sangat indah ku rasa, jutaan lampu warna warninya
berkelip-kelip menghiasi akhir malam 2014. Hujan deras yang turun seakan
menyambut datangnya Tahun 2015 yang hanya tinggal satu jam lagi.
Aku terus berjalan bersama dengan
butiran air hujan dan lampu hias di sana sini, lapangan bundar kota Sumatra yang tampak indah itu membawa aku ke
suatu tempat untuk bernaung. Tempat itu sangat ramai, bangunan yang berbentuk persegi
panjang tampa dinding itu di penuhi oleh semua kalangan orang, dari anak bayi
yang masih di gendong ibunya, sampai kakek-kakek yang berada di belakangku.
Hujan yang deras itu berhasil membasahi baju kaos putih hitam dan celana jeans
yang aku pakai, Jaket coklat dan tas hitamku juga ikut basah karena hujan. Rasa
dingin yang mendekap di tubuhku seakan tak mau pergi. Sesekali orang-orang
melirik ke arahku yang basah dan kedinginan ini, namun orang-orang itu tidak
menghiraukan aku karena sebagian besar orang di sana juga merasa kedinginan.
Banyak orang yang melintas di
depanku, maklum saja, tempat itu menampung kurang lebih lima ratus orang yang
bernaung dari hujan, lalu lalang di depanku tidak membuat aku heran. Ada dua
orang laki-laki berwajah manis berdiri
di sampingku, keberadaanya membuat aku merasa tidak nyaman, Tapi hal itu tidak
berlangsung lama, dua orang pemuda itu segera beranjak pergi entah kemana.
Namun ada hal yang membuat aku semakin merasa tidak nyaman, selain harus
menahan rasa dingin, dan ngantuk yang tak berkesudahan aku juga harus menahan
cemburu melihat sepasang kekasih yang bermersaan di depanku. Dua orang itu
tampak sangat menikmati malam yang kehujanan, tepat sekali berada di depan
kedua mataku.
Aku tak tau mereka siapa, melihatnya
saja hanya baru sekali dan hanya malam itu. Aku rasa mereka adalah sepasang
kekasih yang sudah lama pacaran, dua orang yang sangat dekat dan mesra itu
seakan tidak mehiraukan ratusan orang yang ada di sana. Dunia hanya milik
mereka saja, yang lain bagai pohon yang hanya goyang saat di tiup angin
kencang, sementara mereka adalah sepasang Ratu dan Raja yang ada di bumi.
begitulah seumpamanya bagi mereka menurutku saat itu.
Sambil mendengar konser musik yang di
gelar di tengah lapangan bundar Sumatra Utara, sesekali aku melirik apa saja
yang mereka lakukan serta mendengar setiap kata yang terucap dari perbincagan
mereka. Sebenarnya tanpa harus segaja melihat atau sengaja mendengar, aku
sangat jelas untuk tau hal itu, bagaimana tidak, mereka berada tepat sekali di
depanku dan hanya berjarak kurang lebih 50 cm saja. Aku sangat tau apa yang
mereka lakukan di depanku.
Dengan perlahan dan sangat pasti,
satu kecupan telah mendarat di pipi cewek berjilbab merah jambu itu. Ciuman itu
ia dapat dari sang cowok yang ada bersamanya. Tampa merasa canggung atau segan
dengan ratusan orang yang ada di sana pelukan dan kemesraan lain juga mereka
pamerkan kepada semua orang. Hanya kurang lebih satu jam mereka berada di
depanku, namun sangat banyak kata-kata manis yang keluar dari kedua orang yang
sedang bercinta itu. Kadang gombal yang terucap dari mulut indah sang cowok
juga di balas oleh sang cewek.
Cewek berjilbab itu seakan menjadikan
jilbabnya sebagai tutup dari keburukan dalam hati dan prilakunya. Bagaimana
jika aku yang berada di posisinya saat itu, akan sangat malu jika di tonton
dengan banyak orang di belakangnya, namun mengapa tidak ada satupun orang yang
merespon semua yang dilakukan sepasang remaja itu. Semua orang bagai patung dan
saksi bisu cinta mereka. Tidak ada yang memperdulikan apapun yang mereka lakukan.
Meski anak-anak sampai orang dewasa.
Malam tahun baru memang indah, puluhan
kembang api yang pecah di atas langit bagai tak terkira indahnya, tak lama
setelah hujan berhenti pergantian tahun 2014 menjadi 2015 telah datang. Sepasang kekasih yang sedang bercumbu tak ku
hiraukan lagi. Tidak ada yang aku dapat dari mereka, selain malu melihat
keduanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar