Powered By Blogger

Selasa, 20 Januari 2015

Setetes Darah Untuk Abah



Setetes Darah Untuk Abah

Dia telah lama bergaul dengan orang yang salah, salah satu teman mainnya adalah sang Bandar sabu. Anak sulung dari Empat bersaudara itu mempunyai Dua orang adik prempuan dan satu orang adik laki-laki. Adik prempuan di bawahnya baru saja lulus dari Sekolah Menengah Akhir yang terletak di desa sebelah, sedangkan adik laki-lakinya masih di kelas Enam Sekolah Dasar, dan adik terakhirnya yang prempuan juga masih kelas Empat Sekolah Dasar.
Awan namanya, laki-laki yang kurang lebih berusia 20 Tahun ini tinggal bersama abah dan ibunya tercinta di Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang. Aku kenal, tetapi tidak terlalu dekat dengannya. Sedikit banyak aku tau tentang kehidupannya. Rumahnya terletak tidak jauh dari rumahku. Awan adalah sosok seorang laki-laki yang tampan dan menawan farasnya, tubuhnya putih tinggi, dan sering mengunakan topi. Aku tidak tau jelas siapa pacarnya, yang aku tau, Awan menjalin hubungan asmara dengan gadis yang cantik.
Saking cintanya gadis itu dengan Awan, ia rela mengorbankan keperawanannya untuk di serahkan pada Awan, awalnya di mula dari ciuman di pipi, di bibir dan akhirnya sang selaput darah ia ihklaskan untuk di robek oleh Awan. Tanpa bersalah dan bertanggung jawab, sekarang Awan malah putus dengannya. Untung saja perbuatannya tidak membuat gadis itu hamil. Aku memang sering mendengar Awan gonta ganti pacar, tetapi tidak terlalu tau berita selanjutnya.
Dan pada suatu hari, awan di temukan oleh seorang pemuda sedang sekarat kesakitan, malam itu awan bisa jadi sudah teriak meronta-ronta dan mencoba minta pertolongan, mulutnya berbuih, tubuhnya pucat dan dingin, awan hampir saja mati akibat sakau di sebuah gudang, gudang itu adalah tempat yang biasanya ia jadikan tempat nyabu bareng dengan teman-temannya. Mungkin bagi Awan sabu adalah sahabat dekatnya yang dapat membantu dia untuk mendapatkan kenikmatan dunia. Dan tidak lama setelah di temukan sakau, pemuda sedesa yang juga mengenalnya itu langsung memanggil keluarganya, dan akhirnya awan di bawa ke rumah sakit.
Setelah beberapa minggu di rawat di rumah sakit rehabilitas Aceh Tamiang, awan di bawa pulang oleh sang abah dan ibunya, ia sempat berjanji akan benar-benar berubah dan meninggalkan dunia narkobanya itu. Awalnya abah dan ibunya sempat kaget tidak karuan, seorang awan yang tampan rupanya ternyata penguna setia sabu.
Semenjak kejadian itu abah sering sakit-sakitan, sementara ibunda Awan menjadi tulang punggung keluarga, ibunya awan sering mengambil upah tanam dan bekerja sana sini demi seribu dua ribu uang buat belanja sehari-hari. Untuk makan saja pas-pas’an, konon lagi untuk membeli obat buat sang abah. Sementara Awan bekerja hanya buat dirinya sendiri, rokoknya yang kuat membuat Awan tidak bisa berhemat.
Penyakit abah semangkin memburuk, ibu Awan menjadi kalang kabut mengurusnya, untung saja ada Resti yang membantu pekerjaan rumah dan sekaligus merawat Abah, Resti adalah adik di bawah Awan yang baru lulus SMA, Resti gadis yang baik dan jarang keluar rumah, oleh karena itu sedikit banyak resti membantu apa-apa yang ada di rumah. Tidak seperti Awan yang jarang pulang, meskipun abah sudah sakit sakitan Awan tetap saja selalu tidak menghiraukan hal itu, Awan memang laki-laki yang kurang tanggung jawab, ia seperti anak yang tidak terdidik, padahal abah dan ibunya sungguh-sungguh mendidik dia.
Suatu saat  Abah masuk rumah sakit, berhari hari Abah sudah di rawat, namun hanya sesekali Awan menjenguknya, awan seperti tidak menanggung beban, ibunya pinjam uang sana sini untuk biaya rumah sakit abah, hanya kadang-kadang Awan bekerja untuk membantu dan itu hanya sekedarnya saja.
Abah butuh donor darah golongan A, semua sanak family tidak mempunyai golongan darah A kecuali darah Awan, ibunya tau bahwa Awanlah yang punya golongan darah A seperti Abahnya, waktu di rawat di rumah sakit rehabilitas dokter sempat mengecek golongan darahnya. Hanya awan yang golongan darahnya cocok dengan abah, sedangkan adik-adiknya mengikut  golongan darah sang ibu.
Awan di telephone untuk segera datang kerumah sakit agar nyawa sang abah cepat tertolong, namun awan menolak dengan seribu alasan yang tidak masuk akal, semua pihak keluarga marah besar akan hal itu, Awanlah satu-satunya orang yang dapat mempertahankan nyawa abah, namun Awan selalu saja menghindar untuk tidak mendonorkan darahnya untuk Abah tercinta. Berkali-kali awan di telephone, namun tidak juga datang, stok darah yang bergolongan A di rumah sakit sudah kandas dan awan entah dimana.
Satu hal yang membuat awan lari dan menghindar agar bukan darahnya yang di ambil, waktu itu ada penyesalan serta kebingungan di pikiran Awan. Ia takut semua orang tau bahwa ia masih memakai narkoba. Ia mengerti bahwa pengguna narkoba sampai kapanpun tidak akan dapat mendonorkan darahnya kepada orang lain. Andai saja beberpa bulan waktu itu, setelah keluar dan sembuh dari rehabilitas awan benar-benar berhenti menjadi seorang pemakai, dan sungguh-sungguh untuk bertaubat, pasti darahnya sudah bersih dari narkoba. Tapi semua hanya tinggal penyesalan saja, kini Awan semangkin terikat oleh dunia kecanduan yang mengikatnya.
Abah di kabarkan meninggal dunia akibat kekurangan sel darah merah, Awan satu-satunya orang yang di harapkan pihak keluarga dapat mendongorkan darah tidak kunjung datang, seorang anak yang telah di besarkan dengan penuh kasih sayang dan cinta kasih tidak dapat menolong nyawanya, andai saja Awan dapat mendonorkan darahnya, mungkin abah masih bernyawa dan bernafas hingga detik ini. Narkoba telah merenggut nyawa sang abah, sekarang abah telah pergi untuk selama-lamanya. Jangankan untuk memberikan abah sekantung darah, memberinya setetes sajapun Awan tak mampu. Awan memang anak yang sangat keterlaluan. Bukan hanya hatinya yang kotor, jiwa raga dan darahnya juga ikut kotor akibat narkoba yang kejam.
Semenjak abahnya meninggal dunia, awan merasa sangat bersalah. Sekarang ia ikut bekerja dengan ayahku di sebuah tambak. Sebagian Uang yang iya dapatkan dari hasil kerjanya iya berikan kepada ibunya untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti ada banyak penyesalan pada dirinya dan hidupnya hanya gara-gara barang haram itu. Andai saja waktu dapat terulang, mungkin awan tidak akan pernah mencoba dan memakai narkoba sampai seperti ini candunya. Dan hari demi hari ia lalui tanpa seorang abah, setatusnya kini berubah menjadi yatim. Awan berjanji pada dirinya sendiri untuk meningglkan sabu dan semua barang haram itu. Ia tidak mau hanya gara-gara narkoba nyawa orang-orang yang ia sayang melayang terbang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar