Setetes Darah Untuk Abah
Dia
telah lama bergaul dengan orang yang salah, salah satu teman mainnya adalah
sang Bandar sabu. Anak sulung dari Empat bersaudara itu mempunyai Dua orang
adik prempuan dan satu orang adik laki-laki. Adik prempuan di bawahnya baru
saja lulus dari Sekolah Menengah Akhir yang terletak di desa sebelah, sedangkan
adik laki-lakinya masih di kelas Enam Sekolah Dasar, dan adik terakhirnya yang
prempuan juga masih kelas Empat Sekolah Dasar.
Awan
namanya, laki-laki yang kurang lebih berusia 20 Tahun ini tinggal bersama abah
dan ibunya tercinta di Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang. Aku kenal, tetapi tidak
terlalu dekat dengannya. Sedikit banyak aku tau tentang kehidupannya. Rumahnya
terletak tidak jauh dari rumahku. Awan adalah sosok seorang laki-laki yang
tampan dan menawan farasnya, tubuhnya putih tinggi, dan sering mengunakan topi.
Aku tidak tau jelas siapa pacarnya, yang aku tau, Awan menjalin hubungan asmara
dengan gadis yang cantik.
Saking
cintanya gadis itu dengan Awan, ia rela mengorbankan keperawanannya untuk di
serahkan pada Awan, awalnya di mula dari ciuman di pipi, di bibir dan akhirnya
sang selaput darah ia ihklaskan untuk di robek oleh Awan. Tanpa bersalah dan
bertanggung jawab, sekarang Awan malah putus dengannya. Untung saja perbuatannya
tidak membuat gadis itu hamil. Aku memang sering mendengar Awan gonta ganti
pacar, tetapi tidak terlalu tau berita selanjutnya.
Dan
pada suatu hari, awan di temukan oleh seorang pemuda sedang sekarat kesakitan,
malam itu awan bisa jadi sudah teriak meronta-ronta dan mencoba minta
pertolongan, mulutnya berbuih, tubuhnya pucat dan dingin, awan hampir saja mati
akibat sakau di sebuah gudang, gudang itu adalah tempat yang biasanya ia
jadikan tempat nyabu bareng dengan teman-temannya. Mungkin bagi Awan sabu
adalah sahabat dekatnya yang dapat membantu dia untuk mendapatkan kenikmatan
dunia. Dan tidak lama setelah di temukan sakau, pemuda sedesa yang juga
mengenalnya itu langsung memanggil keluarganya, dan akhirnya awan di bawa ke
rumah sakit.
Setelah
beberapa minggu di rawat di rumah sakit rehabilitas Aceh Tamiang, awan di bawa
pulang oleh sang abah dan ibunya, ia sempat berjanji akan benar-benar berubah
dan meninggalkan dunia narkobanya itu. Awalnya abah dan ibunya sempat kaget
tidak karuan, seorang awan yang tampan rupanya ternyata penguna setia sabu.
Semenjak
kejadian itu abah sering sakit-sakitan, sementara ibunda Awan menjadi tulang
punggung keluarga, ibunya awan sering mengambil upah tanam dan bekerja sana
sini demi seribu dua ribu uang buat belanja sehari-hari. Untuk makan saja
pas-pas’an, konon lagi untuk membeli obat buat sang abah. Sementara Awan
bekerja hanya buat dirinya sendiri, rokoknya yang kuat membuat Awan tidak bisa
berhemat.
Penyakit
abah semangkin memburuk, ibu Awan menjadi kalang kabut mengurusnya, untung saja
ada Resti yang membantu pekerjaan rumah dan sekaligus merawat Abah, Resti
adalah adik di bawah Awan yang baru lulus SMA, Resti gadis yang baik dan jarang
keluar rumah, oleh karena itu sedikit banyak resti membantu apa-apa yang ada di
rumah. Tidak seperti Awan yang jarang pulang, meskipun abah sudah sakit sakitan
Awan tetap saja selalu tidak menghiraukan hal itu, Awan memang laki-laki yang
kurang tanggung jawab, ia seperti anak yang tidak terdidik, padahal abah dan
ibunya sungguh-sungguh mendidik dia.
Suatu
saat Abah masuk rumah sakit, berhari
hari Abah sudah di rawat, namun hanya sesekali Awan menjenguknya, awan seperti
tidak menanggung beban, ibunya pinjam uang sana sini untuk biaya rumah sakit
abah, hanya kadang-kadang Awan bekerja untuk membantu dan itu hanya sekedarnya
saja.
Abah
butuh donor darah golongan A, semua sanak family tidak mempunyai golongan darah
A kecuali darah Awan, ibunya tau bahwa Awanlah yang punya golongan darah A
seperti Abahnya, waktu di rawat di rumah sakit rehabilitas dokter sempat
mengecek golongan darahnya. Hanya awan yang golongan darahnya cocok dengan
abah, sedangkan adik-adiknya mengikut
golongan darah sang ibu.
Awan
di telephone untuk segera datang kerumah sakit agar nyawa sang abah cepat
tertolong, namun awan menolak dengan seribu alasan yang tidak masuk akal, semua
pihak keluarga marah besar akan hal itu, Awanlah satu-satunya orang yang dapat
mempertahankan nyawa abah, namun Awan selalu saja menghindar untuk tidak
mendonorkan darahnya untuk Abah tercinta. Berkali-kali awan di telephone, namun
tidak juga datang, stok darah yang bergolongan A di rumah sakit sudah kandas
dan awan entah dimana.
Satu
hal yang membuat awan lari dan menghindar agar bukan darahnya yang di ambil,
waktu itu ada penyesalan serta kebingungan di pikiran Awan. Ia takut semua
orang tau bahwa ia masih memakai narkoba. Ia mengerti bahwa pengguna narkoba
sampai kapanpun tidak akan dapat mendonorkan darahnya kepada orang lain. Andai
saja beberpa bulan waktu itu, setelah keluar dan sembuh dari rehabilitas awan
benar-benar berhenti menjadi seorang pemakai, dan sungguh-sungguh untuk
bertaubat, pasti darahnya sudah bersih dari narkoba. Tapi semua hanya tinggal
penyesalan saja, kini Awan semangkin terikat oleh dunia kecanduan yang
mengikatnya.
Abah
di kabarkan meninggal dunia akibat kekurangan sel darah merah, Awan
satu-satunya orang yang di harapkan pihak keluarga dapat mendongorkan darah
tidak kunjung datang, seorang anak yang telah di besarkan dengan penuh kasih
sayang dan cinta kasih tidak dapat menolong nyawanya, andai saja Awan dapat
mendonorkan darahnya, mungkin abah masih bernyawa dan bernafas hingga detik
ini. Narkoba telah merenggut nyawa sang abah, sekarang abah telah pergi untuk
selama-lamanya. Jangankan untuk memberikan abah sekantung darah, memberinya
setetes sajapun Awan tak mampu. Awan memang anak yang sangat keterlaluan. Bukan
hanya hatinya yang kotor, jiwa raga dan darahnya juga ikut kotor akibat narkoba
yang kejam.
Semenjak
abahnya meninggal dunia, awan merasa sangat bersalah. Sekarang ia ikut bekerja
dengan ayahku di sebuah tambak. Sebagian Uang yang iya dapatkan dari hasil
kerjanya iya berikan kepada ibunya untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti ada banyak
penyesalan pada dirinya dan hidupnya hanya gara-gara barang haram itu. Andai
saja waktu dapat terulang, mungkin awan tidak akan pernah mencoba dan memakai
narkoba sampai seperti ini candunya. Dan hari demi hari ia lalui tanpa seorang
abah, setatusnya kini berubah menjadi yatim. Awan berjanji pada dirinya sendiri
untuk meningglkan sabu dan semua barang haram itu. Ia tidak mau hanya gara-gara
narkoba nyawa orang-orang yang ia sayang melayang terbang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar